Penulis Merugi, Seakan Buku Kosong

Salah satu pelanggan lapak buku di Blok M Square adalah Rizaldy. Pria yang bekerja sebagai penulis di sebuah majalah seni ini mengaku sudah mengoleksi sebagian dari seratusan buku yang dibeli dari lapak di Blok M Square.

“Novel Pram (Pramoedya Ananta Toer-red) yang gue beli di Blok M Square pasti bajakan. Waktu itu yang asli jarang dan mahal. Sekarang yang asli dicetak ulang, tapi harganya tetap mahal,” tuturnya.

Novel yang ia beli adalah bagian dari serial Tetralogi Pulau Buru. Ia membandingkan harga buku asli di toko buku besar sekitar Rp 130 ribu per buku. Sedangkan buku bajakan ia cukup mengeluarkan duit Rp 40 ribu.

Buku bajakan tampaknya sulit diberantas. Padahal, pembajakan buku selain merugikan negara lantaran tak ada pajak yang masuk, juga merugikan penerbit karena perlahan-lahan kehilangan pasar.

Penulis Paling Dirugikan

Namun, dari pihak yang paling dirugikan dari pembajakan buku adalah penulis. Dengan pembajakan, karya dan hak cipta para penulis telah dicuri. Mereka hanya bisa bermimpi untuk mengantongi royalti dari buku bajakan. Padahal, royalti yang diterima penulis tidak sebesar yang dipotong pajak untuk negara, penerbit, distributor dan pedagang.

Pingadi Abdi, seorang penulis pernah mengungkapkan keluhan melalui media sosial. Penulis buku ‘4 Musim Cinta’ menyebutkan rata-rata royalti yang diterima penulis adalah 10 persen. Dari kue sebesar 10 persen itu pun masih harus disunat ke sana ke mari.

Pertama, royalti akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sehingga sisa royalti menjadi 9 persen. Setelah itu penulis menanggung lagi Pajak Penghasilan (PPh) royalti sebesar 15 persen, sehingga sisanya 7,65 persen. “Semisal buku yang ia tulis seharga Rp 50.000 satu eksemplar, maka royalti yang diterima penulis per buku adalah Rp 3.825,” tulisnya.

Penulis lainnya, Bambang Trim juga mengungkapkan hal serupa. Melalui blog pribadinya, pengarang buku ‘Taktis Menyunting Buku’ ini mengatakan seorang penulis baru bisa benar-benar merasakan keuntungan dari royalti kalau tembus best seller. Dan untuk menjadi buku best seller, buku itu harus terjual lebih dari 30 ribu eksemplar dalam setahun. “Atau dicetak tiga kali dalam rentang tiga bulan. Cetakan I 3.000 eksemplar untuk tes pasar, cetakan II 5.000 optimistis, dan cetakan III 10.000 yakin,” ungkapnya.

 

Penulis Merugi, Seakan Buku Kosong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Solve : *
23 − 3 =